wahyusuwarsi.com

Arisan Gaol (Piknik 5) De Tjolomadue

PABRIK GULA COLOMADU SOLO

Arisan Gaol piknik lagiii ....
Kali ini emak-emak Arisan Gaol piknik ke Solo. Ya ... tanggal 15 Mei kami mendapat undangan halal bihalal dari seorang rekan Alste 85 yaitu Om Herudi.
Gercep nich, mulai susun rencana buat sewa mobil dan destinasi tujuan dan ...  tentu saja lengkap dengan RAB nya dong.


Dari Semarang kami berangkat bersembilan karena ada beberapa yang berhalangan hadir. Oiya ada teman kami Fauziya yang nggak bisa berangkat, tapi ikut berkontribusi untuk sewa mobil. Matur nuwun tan Fausiya, semoga barokah.

Singkat cerita ... setelah acara halbi selesai, tiba juga nih saatnya piknik.
Ayo cuzzz ke destinasi pertama yaitu PG Colomadu.


SEJARAH PG COLOMADU

PG Colomadu terletak di jalan Adi Sucipto di sebelah kiri jalan menuju bandara Adi Sucipto yang merupakan  bangunan kolonial dengan cerobong asap yang menjulang tinggi, tepatnya di Malangjiwan, Colomadu,Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Menempati lahan dengan luas 6,4 hektare dan luas bangunan 1,3 hektare.

Nama Colomadu bisa diartikan Gunung Madu yang maknanya diharapkan bahwa produksi gula pasir yang dihasilkan pabrik gula ini bisa menyerupai gunung, karena pada saat itu komoditas gula sedang naik daun,  dan PG Colomadu merupakan simbol kekayaan Raja Jawa Pengusaha Pribumi di era kolonial Belanda.

Bangunan pabrik gula ini sudah berdiri sejak tahun 1861. Peralatan dan mesin-mesin didatangkan dari Eropa secara bertahap. 

Mengutip dari Google, pemilik PG Colomadu adalah Praja Mangkunegaran Mangkunegara IV, dibangun oleh KGPAA Mangkunegara IV yaitu Raja Jawa dari Praja Mangkunegaran yang hidup di periode 1853-1881. Sedangkan pembangunan PG Colomadu diserahkan kepada R. Kampf, seorang Eropa berkebangsaan Jerman yang kemudian ditunjuk menjadi administratur setelah pabrik gula beroperasi.

Hasil giling di tahun I (1803) adalah 3.700 kuintal gula.
Puncak produksi terjadi pada tahun 1936  menghasilkan gula sebanyak 219.000 kuintal. 
Tahun 1997 adalah tahun terakhir masa giling tebu dan resmi berhenti beroperasi tahun 1998 karena adanya krisis ekonomi pada saat itu.
Pada tahun 2017 oleh Kementerian BUMN di Re-branding menjadi "De Tjolomadoe" dan dijadikan venue bernilai sejarah dan manfaat komersial, hingga saat ini dijadikan destinasi wisata di kota Solo.

Itulah sedikit sejarah PG Colomadu.

TOUR DE TJOLOMADOE

Masuk menuju tempat parkir akan dikenakan tiket parkir seharga Rp 5.000, sedangkan tiket masuk per orang seharga Rp 35.000.

Di halaman bangunan pabrik tampak menara pabrik yang menjulang tinggi dan tampak megah, nggak lupa foto-foto dulu dong.

Ceekreeek 📸📸


Bangunan PG Colomadu


Menara PG Colomadu

Menurut Tribune News, De Tjolomadoe mempunyai beberapa ruangan yang diberi nama seperti nama aslinya. 
Stasiun Penguapan yang nantinya akan difungsikan untuk area arcade.
Stasiun Ketelan sebagai area F & B
Stasiun Gilingan sebagai Museum Pabrik Gula.
Stasiun Karbonatasi untuk area Art & Craft.
Besali Cafe untuk area F & B.
Tjolomadoe Hall (Concert Hall) dan Sarkara Hall sebagai multi fungsi hall.

Ruang pertama ketika saya masuk adalah "Stasiun Penguapan" yang berisi beberapa mesin seperti dandang. Diseberangnya adalah "Stasiun Ketelan."

Di dinding tampak foto beberapa pahlawan dalam ukuran yang besar, ditempel berjajar rapi berseberangan dengan Stasiun Ketelan. Foto-foto pahlawan tersebut dipasang di atas replika kereta api dalam ruangan tersebut.

Di sudut ruang Stasiun Penguapan ada pintu masuk menuju "Besali Cafe" yang menyediakan menu dengan harga terjangkau tentunya. Sayang sekali saya dan teman-teman nggak sempat mampir ke cafe karena terbatasnya waktu.


Stasiun Penguapan


Gambar pahlawan di atas replika KA

Berikutnya adalah Stasiun Ketelan yang letaknya tepat di depan Stasiun Penguapan. Seperti telah disebutkan di atas, nantinya Stasiun Ketelan akan difungsikan sebagai area Food and Beverage.


Stasiun Ketelan

Ruangan berikutnya adalah Stasiun Gilingan, yang di ruangan ini terdapat bekas mesin-mesin penggiling yang masih terawat dengan baik.


Mesin-mesin di Stasiun Gilingan


Di ruangan ini juga terdapat foto-foto sejarah perjalanan PG Colomadu dari tahun 1867 - 2018.



Ruangan berikutnya yang saya kunjungi adalah Museum De Tjolomadu. Dalam museum ini terdapat sejarah tentang masuknya gula ke Indonesia, ada juga replika pembuatan gula di pabrik gula, masih ada juga Tungku Pemanas yang tentu saja sudah tidak aktif.




Tungku pemanas


Yang  menarik adalah ketika saya masuk ke ruang proyektor, di ruangan ini diperlihatkan film tentang proses pemanenan tebu hingga proses pengolahan gula di pabriknya.


Ruang Proyektor

Ada lagi satu ruangan yang paling saya suka yaitu ruangan "Tandoer Teboe." Dalam ruangan ini saya seolah-olah diajak turut serta menanam tebu, dengan animasi yang keren dan hidup. Semua itu bisa disaksikan lewat layar televisi yang dipasang di dinding.


Ruang Tandoer Teboe

Oiya ... ada lagi  ruangan yang menarik yaitu ruangan batik dengan warna-warna cerah, yang tentunya di ruangan ini kita dapat berfoto ria.



Ruang batik

Nah ... itulah cerita saya tentang destinasi wisata De Tjolomadoe. Monggo yang lewat Solo bisa mampir sambil belajar sejarah tentunya.

Semarang, 1 Juni 2022



















Posting Komentar